BUAT PARA PELAJAR, TETAP SEMANGAT BELAJAR DI RUMAH,JANGAN PANIK MENGHADAPI VIRUS CORONA, TAPI JANGAN REMEHKAN KARENA SIAPA SAJA BISA JADI KORBAN, SEMOGA PANDEMI CORONA SEGERA BERAKHIR SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERGABUNG BERSAMA "GARUDA BUKATEJA" DALAM SITUASI PANDEMI COFID 19

KERAJAAN MEDANG KAMULAN (Jawa Timur)

Kerajaan Medang Kamulan adalah kerajaan Hindu–Budha, yang merupakan kelanjutan kerajaan Medang (Mataram Kuno) di Jawa Tengah. Pendirinya adalah Mpu Sindok, Ia sebenarnya raja Medang (Mataram Kuno). Ia memindahkan istana kerajaan ke Jawa Timur (Medang Kamulan), karena di Jawa Tengah terjadi bencana besar, yaitu meletusnya gunung Merapi.
Menurut teori van Bammelen, istana kerajaan hancur akibat letusan gunung Merapi yang disertai gempa bumi dan hujan material vulkanik. Tidak diketahui dengan pasti apakah bencana alam ini terjadi pada masa pemerintahan Dyah Wawa ataukah pada pemerintahan Mpu Sindok.
A.    Sumber Sejarah
1.    Prasasti Anjukladang (937 M), terletak di desa Candirejo, selatan kota Nganjuk, Jawa Timur. Dibuat pada masa pemerintahan Mpu Sindok yang memerintah dari tahun 928 sampai tahun 948 M. Prasasti tersebut disebut juga prasasti candi Lor.
2.    Prasasti Alasantan (939 M), menyebutkan pada tanggal 6 September 939 M, Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isyanawikrama memerintahkan agar tanah di Alasantan dijadikan sima milik Rakryan Kabayan.
3.    Prasasti Kamban (941 M),  prasasti tersebut menyebutkan bahwa pada tanggal 19 Maret 941 M, Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isyanawikrama Dyah Matanggadewa meresmikan desa Kamban menjadi daerah perdikan.
4.    Prasasti Hara-hara (966 M), menyebutkan bahwa pada tanggal 12 Agustus 966, Empu Mano menyerahkan tanah yang haknya secara turun temurun kepada Mpungku Susuk Pager dan Mpungku Nairanjana untuk dipergunakan membiayai sebuah rumah do’a (Kuti). 
5.    Prasasti Gulung-gulung (929 M), berisi tentang permohonan Rakai Hujung Mpu Madhura agar sawah di desa Gulung-gulung dijadikan sima bagi bangunan suci Mahaprasada di Himad.
6.    Prasasti Cunggrang (929 M), berisi tentang penetapan desa Cunggrang sebagai sima swatantra untuk merawat makam Rakryan Bawang Dyah Srawana, yang diduga sebagai ayah dari sang permaisuri Kebi.
7.   Prasasti Jru-jru (930 M), di daerah Linggasutan dijadikan sima swatantra untuk merawat bangunan suci Sang Sala di Himad
8.    Prasasti Waharu tahun (931M), berisi tentang anugerah untuk penduduk desa Waharu yang dipimpin Buyut Manggali, karena setia membantu negara melawan musuh.
9.    Prasasti Sumbut (931 M), berisi tentang penetapan desa Sumbut sebagai sima swatantra, karena kesetiaan Mapanji Jatu Ireng dan penduduk desa itu.
10.  Prasasti Wuling (935 M), berisi tentang peresmian tentang bendungan di Wuatan Wulan dan Wuatan Tamya yang dibangun para penduduk desa Wuli di bawah pimpinan Sang Pamgat Susuhan.
11.  Prasasti Pucangan , dijelaskan pada prasasti tersebut bahwa Mpu Sindok digantikan puterinya, yaitu Sri Isyanatunggawijaya.http://id.wikipedia.org/wiki/Mpu_Sindok
Berita Asing yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber Sejarah Kerajaan Medang :
1.    Berita dari Indonesia mengatakan, bahwa kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan Chola untuk membendung dan menghalangi kemajuan kerajaan Medang Kamulan, pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa.
2.    Berita Cina berasal dari catatan-catatan yang ditulis pada zaman Dinasti Sang. Pada tahun 992 M tercatat pada catatan-catatan negei Cina tentang datangnya duta persahabatan dari Jawa.
B.    Raja-raja Medang Kamulan ( Jawa Timur )
  1. Mpu Sindok, alias Maharaja Isyana
  2. Sri Isyanatunggawijaya, memerintah bersama Lokapala
  3. Makutawangsawardhana
  4. Dharmawangsa Teguh, memerintah di Jawa, Mahendradatta memerintah di Bali.  http://id.wikipedia.org/wiki/Wangsa_Isyana
Berdasarkan penemuan beberapa prasasti, dapat diketahui bahwa Kerajaan Medang Kamulan terletak di muara Sungai Brantas. Ibukotanya bernama Watan Mas. Kerajaan itu didirikan oleh Mpu Sindok, setelah ia memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Wilayah kekuasaan Kerajaan pada masa pemerintahan Mpu Sindok mencakup Nganjuk di sebelah barat, Pasuruan di sebelah timur , Surabaya di sebelah utara, dan Malang di sebelah selatan. Dalam perkembangan selanjutnya, wilayah kekuasaan Kerajaan Medang Kamulan mencakup  hampir seluruh wilayah Jawa Timur.
C.    Runtuhnya Kerajaan Medang Kamulan
Setelah Mpu Sindok turun tahta, keadaan Jawa Timur dapat dikatakan suram, karena tida adanya prasasti yang menceritakan kondisi Jawa Timur. Baru setelah Airlangga maik tahta muncul prasasti-prasasti yang dijadikan sumber untuk mengetahui keberadaan kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur.
Raja Dharmawangsa dikenal sebagai salah seorang raja yang memiliki pandangan politik yang tajam. Kebesaran Dharmawangsa tampak jelas pada politik luar negerinya. Raja Dharmawangsa percaya bahwa kedudukan ekonomi kerajaan Sriwijaya yang kuat merupakan ancaman bagi perkembangan kerajaan Medang Kamulan. Oleh karena itu Raja Dharmawangsa mengerahkan seluruh angkatan lautnya untuk menduduki dan menguasai kerajaan Sriwijaya.
Akan tetapi selang beberapa tahun kemudian, kerajaan Sriwijaya bangkit dan mengadakan pembalasan terhadap kerajaan Medang Kamulan yang masih  diperintah oleh Dharmawangsa. Dalam usaha menundukkan kerajaan Medang Kamulan, Kerajaan Sriwijaya mengadakan hubungan dengan kerajaan kecil yang ada di Jawa, yaitu dengan kerajaan Wura-wari. Serangan dari kerajaan Wurawari  itulah yang mengakibatkan hancurnya Kerajaan Medang Kamulan (1016 M). Serangan itu terjadi ketika Raja Dharmawangsa melaksanakan upacara pernikahan puterinya dengan Airlangga (dari Bali). Dalam serangan itu, Raja Dharmawangsa beserta kerabat istana tewas. Namun Airlangga dapat melarikan diri bersama pengikutnya yang setia, yaitu Narotama.http://suwandi-sejarah.blogspot.com/2010/09/kerajaan-medang-kamulan.html
D.    Peninggalan Kerajaan Medang Kamulan
1.    Candi Brahu
Berdasar gaya bangunan serta profil sisa hiasan denah lingkaran pada atap candi yang diduga sebagai bentuk stupa. Para ahli menduga bahwa candi Brahu bersifat Budhis. Selain itu diperkirakan Candi Brahu ini umurnya lebih tua dibanding dengan candi-candi yang ada di Situs Trowulan. Dasar dugaan ini adalah prasasti Alasantan yang ditemukan tidak jauh dari Candi Brahu.
Comments
0 Comments